Sabtu, 30 April 2016

Breaking Bad All Season (2008-2013)

Seorang kawan berkata seluruh harinya menjadi muram ketika selesai menyaksikan Oldboy (2003), saya tak berkata ikut mengalami hal serupa, namun melihat bagaimana Walter White berkelahi dengan istrinya (Skyler White) didepan anak laki-lakinya (Walter White Junior) dimana diantara ketiganya ada seutas pisau dapur dan seribu prasangka adalah peristiwa yang mengunyah emosi.

Dalam keluarga ini, hanya ada kebohongan untuk menutupi kebohongan, "rumah gila" dalam bahasa adik Skyler (Marie Schrader), acuhkan sejenak pakem filsafat untuk rumah Jawa, karena rumah gila yang dimaksud Marie benar-benar gila dalam makna harfiahnya, bukan sekat-sekat pringgitan, krobongan atau pawon tapi kejeniusan Vince Gilligan dalam menyelesaikan narasi besar Breaking Bad (dengan dua "B" Kapital).

Begitu natural, begitu kekeluargaan.

Tidak ada tokoh yang benar-benar baik atau benar-benar jahat disini, semua serba berkekurangan; seperti manusia yang justru dari kekurangannya menjadi sempurna. Breaking Bad seperti Josep Guardiola yang memilih berhenti melatih Barcelona disaat yang tepat; 4 tahun untuk 14 trofi. 62 episod untuk serial televisi dengan rating tertinggi Guinnes World Records.

Lekat dalam ingatan, Breaking Bad adalah teaser-teaser ganas yang memprakondisikan dugaan-dugaan liar. Apa hubungan nya bocah pengendara trail pengumpul laba-laba gurun dengan Heisenberg legenda sabu.

Dalam sebuah artikel yang diposting marketing.co.id tanggal 12 Juli 2004 (saya akses 30 April 2016 pukul 20.05 wita), Pakubuwono Residence mengiklankan apartemen mewahnya di media cetak satu halaman penuh tanpa isi, sekali lagi tanpa isi selama dua hari berturut-turut. Jenis teaser yang lain saya kira, namun apapun itu saat ini agar tergelitik manusia cendrung menyukai informasi yang "tidak lengkap."


Benarlah, merayakan kehidupan tak jauh beda seperti melihat pertunjukan striptease.

Jumat, 29 April 2016

Breaking Bad Season 3 Episode Abiquiu (2010)

Saya ingin memulai tulisan ini tepat dimana saya memulai menuliskannya; disebuah penginapan islami didaerah Caracas, yang saya maksudkan disini tentu saja bukan Kota Caracas tempat diikrarkan kemerdekaan Venuzuela tahun 1811 lampau, tapi desa Caracas (Kecamatan Cilimus – Jawa Barat) yang menurut fiksi sejarahnya merupakan tempat ditemukannya tulang belulang ikan hidup bernama Caraca.

Sebelum itu, dalam sebuah bus Luragung Jaya Non AC rute Baranangsiang – Kertawangunan, Surat Kabar yang sempat dibredel dua kali (1965 dan 1978) memberitakan Samsudin (45 Tahun); mengayuh sepeda onthel selama 22 hari melewati Jakarta-Lampung-Bengkulu-Jambi untuk mendongeng Badak Jawa/Sumatera kepada siswa(i) sekolah-sekolah yang disinggahinya. Bagi saya, berita Samsudin lebih menggigit daripada berita Ali Gufron Mukti yang mempersilahkan 10% dosen asing mengajar di Tanah Air atau berita penegakan hukum adat Dayak hasil Rapat Damai Tumbang Anoi tahun 1894 pasal ke-16 tentang Singer Sahiring.

Sebelum itu lagi, Jane Margolis (diperankan Krysten Ritter) bersama Jesse Pinkman (Aaron Paul) menatap My Last Door (1954) dengan khidmat sampai Jesse berkata "Yo, kukira akan lihat vagina."

Georgia Totto O’Keeffe, lahir tahun 1887 di lingkungan petani Wisconsin, dikenal kemudian sebagai ibu modernisme Amerika sebab -meminjam istilah Jane- "melukis bermacam benda" tak terkecuali pintu.

"… dan mengapa ada orang melukis sebuah pintu, berulang-ulang kali?" Tanya Jesse.

Saya sampaikan ide dasar jawaban Jane: pencahayaan dan mood yang berbeda setiap kali melukis pintu yang sama menghasilkan pintu yang tak sama, O’Keeffe melihat sesuatu yang baru tiap kali melukis. Seperti hidup yang tak harus melihat matahari tenggelam hanya sekali, sebab dalam hidup selalu ada pengalaman berbeda disetiap pengulangannya dan persis disanalah kita berjuang. Layaknya ikan Caraca yang meski tinggal tulang tapi tetap terus menerus hidup.

Minggu, 10 April 2016

Catatan atas Breaking Bad; Pilot (2008) s.d. 4 Days Out (2009)

Dari total 17 epos yang telah saya nikmati, tak ada salahnya sama sekali saya pikir jika permenungan itu dituliskan. Sengaja saya gunakan "epos" karena bagi saya Walter "Walt" White (diperankan Bryan Cranston) adalah Pahlawan –dengan P Kapital- keluarga tanpa harus dijangkarkan pada Undang-Undang mengenai Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (20/2009).

Oleh sebab itu, Walt tak terikat pada "syarat umum" maupun "syarat khusus" sebagaimana disebut Pasal 24 UU 20/2009 yang terlampau mengawang-ngawang, tapi Walt adalah bentuk lain dari Januminro Bunsal; Laki-laki dayak yang dengan tenaga sendiri merestorasi hutan gambut sepetak demi sepetak, dengan kata lain manusia-manusia yang menerima dengan enggan predikat pahlawan –dengan p kecil-.

Walt besar kemungkinan juga tak pernah membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad berjudul Einstein yang diposting Tempo.co 21 Maret 2016 lalu, namun Walt saya kira punya "pojok bual" nya sendiri yang tidak –atau belum- diperlihatkan Vince Gilligan; si pembuat Breaking Bad.

Secara sederhana, ide dasar dari Breaking Bad adalah perjuangan seorang guru kimia SMA yang terdiagnosa kangker paru-paru (Walter "Walt" White) untuk menjamin masa depan keuangan keluarganya dengan jalan memproduksi dan menjual kristal metamfetamin atau met yang di Indonesia dikenal sebagai sabu-sabu, yang harus saya garis bawahi, pentasbihan pahlawan untuk Walt dari saya bukan Walt sebagai aktor sabu (dengan identitas Heisenberg), melainkan Walt sebagai seorang pejuang yang semangatnya patut diteladani tapi tidak pada kemana semangat itu ditempatkan. Sebagai contoh untuk membingungkan, Imam al-Ghazali ath-Thusi dikatakan masuk surga bukan karena banyaknya karya-karya Tasawuf, Filsafat, Fiqih atau Logika yang ditulis namun disebabkan ketika menulis karya-karya itu al-Ghazali berhenti menulis karena membiarkan seekor lalat meminum tinta.

Saya tak punya keinginan untuk meneladani Heisenberg, karenanya saya berhenti untuk membincang sabu-sabu yang pertama kali dibuat Nagai Nagayoshi di Jepang tahun 1893, perbincangan seksi Breaking Bad justru sebagian besar ada dirumah Walt. Konflik keluarga adalah darah sekaligus daging.

Bagaimana Skyler White (diperankan Anna Gunn) yang mengandung harus memikirkan beban tagihan kemoterapi Walt yang sudah dibayar, kebohongan-kebohongan Walt, perilaku klepto adik perempuannya, sampai ejekan masyarakat atas anak laki-lakinya yang cacat adalah peristiwa-peristiwa yang begitu dekat, begitu mungkin terjadi dalam sebuah kehidupan. Skyler mewartakan menyerah bukan termasuk pilihan.

Saya akan ambil satu kasus, Skyler yang sedang mengandung merokok tiga setengah batang. Jadi ada Acrolein, Karbon Monoxida, Nikotin, Ammonia, Formic Acid, Formaldehyde, Tar, Methanol, Phenol lan koncone yang mlaku-mlaku dalam aliran darah Skyler yang juga jadi satu-satunya sumber nutrisi serta oksigen bayi dalam kandungannya.

Walt: "kau hamil, demi Tuhan"
Skyler: "tiga setengah rokok ...tak akan berpengaruh pada bayinya"
Walt: "tak akan, aku lega kau yakin Dokter"
Skyler; "tiga setengah, hanya itu. yang lain kubuang. Aku yakin kau senang mendengar ini, ya aku merasa malu."
Walt: "Skyler, ini sangatlah... ini tak sepertimu, mengapa?"
Skyler: "benarkah? bagaimana kau tahu?"

"Bagaimana kau tahu," ya bagaimana kau tahu maksud saya dan maksud perbincangan ini jika tak menyaksikan peristiwa-peristiwa dalam Breaking Bad sebelumnya. Sebab peristiwa tak pernah berdiri sendiri, sebab hidup dikontruksi 90% reaksi atas 10% aksi.

Demikian.

Kamis, 04 Februari 2016

"Just Business" Prison Break Season 4 Episode 14 (2008-2009)

Dari 43 menit waktu tayang, menit ke-9 adalah hulu ledak yang ingin saya bincangkan, tepat di menit itu "Just Bussiness" menjadi begitu sadis dan terasa akrab dengan sekitar, Robert Knepper berhadapan dengan eksistensinya sebagai Cole Pfeiifer atau sebagai Theodore Bagwell, dengan kata lain krisis identitas.

Ada baiknya menengok sejenak ke Tahun 1979 dimana Pionir Psikologi Sosial kelahiran Polandia, Henry Tajfel bersama John Turner mengembangkan teori yang berusaha melihat kondisi minimal manusia untuk mendiskriminasi manusia lainnya yang kemudian dikenal dengan Teori Identitas Sosial, saya tak menganjurkan untuk mengabaikan jenis-jenis identitas sosial namun proses identifikasi adalah ikhwal yang tak mati-mati. "Kita adalah tawanan dari identitas kita sendiri, hidup dipenjara ciptaan kita sendiri," ujar Knepper. Pengejaran atas identitas ini memiliki konsekuensi (1) manusia menjadi terlampau ambisius, homo homini lupus dan mendangkal, (2) oleh sebab tak tergapai, manusia membentuk identitas identitas baru nan palsu yang sekarang tampak memaku dalam media sosial. Dalam bahasa teolog Denmark; Soren Kierkegaard, konsekuensi kedua dapat disebut sebagai "absen dari diri sendiri." Sebagaimana ditelaah Karlina Supelli dalam Jurnal Filsafat Driyarkara No. 3 Tahun 2013, kesibukan orang dalam media sosial merupakan bentuk pantulan pelarian dari kesekarangan. Semakin berbondong domba-domba sesat memproklamirkan identitas, semakin berbondong pula wajah gembala. Manis dusta membentuk tatanan masyarakat dimana "pembangkangan agung" individu dianggap aib lagi kadaluarsa.

Yang lebih unik, identitas kemudian didigitkan, tepatnya 16 (enam belas) digit, 2 digit kode provinsi, 2 digit lagi kode kabupaten, 2 digit kode kecamatan, 6 digit tanggal dan tahun lahir, dan 2 digit terahir sebagi nomor urut. Lantas, Kita kenal kemudian sebagi Nomor Induk Kependudukan tapi saya kenal sebagai kolektifikasi pemiskinan individu yang saya dukung sebagai sebuah struktur sistem dengan kritik sana sini.

Kecurigaan saya atas rasa hormat berlebih terhadap Robert Knepper pun terjawab, Knepper lebih memilih "membangkang sendirian," bagaimana tidak, menjadi Cole Pfeiifer dengan identitas "tipe pria terhormat" pasti amat menggiurkan, direktur penjualan bagian utara, tinggal diapartemen mewah dan lain-lainnya, tapi Knepper justru tetap memilih menjadi Theodore Bagwell, narapidana psiko yang menanggung dosa moral sejak lahir. "Persetan dengan itu, kita adalah siapa kita" ucapnya. dan saya rasa tulisan ini masih jauh dari selesai...

Kamis, 31 Desember 2015

Pawn Sacrifice (2014)

Disamping menemukan Tuhan, tidak ada lagi yang lebih menggembirakan selain mendapati film menyejarah, kira-kira begitulah awalan untuk membuka film besutan Edward Zwick, Pawn Sacrifice (2014).

Dalam Pawn Sacrifice (2014), segala-galanya menarik, ganas dan ode tak berlebihan lain, singkatnya Zwick menjelaskan film ini diberi judul "Pawn Sacrifice" sebab dibelakang Bobby Fischer ada Henry Kissinger juga Richard Nixon, dibelakang Boris Spassky ada Leonid Brezhnev serta KGB (bukan Kelenjar Getah Bening tentu saja tapi Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti).

Kita tahu Pawn Sacrifice (2014) sepintas sederhana mengisahkan duel Fischer (diperankan Tobey Maguire) dengan Spassky (Live Schreiber) di papan catur Islandia tahun 1972. Namun kita juga tahu, bila mentaklid Zwick maka Pawn Sacrifice (2014) menjadi arena ide-ide yang tak lagi sederhana.

Edward Zwick menolak gamblang lagi tak serampangan kata-kata Fischer muda: "Pendapatku soal permainan, dua orang diatas papan catur, satu membuat langkah, yang lainnya juga melangkah, itu saja." Saya gunakan "Fischer muda" bukan tanpa disengaja, setali tiga uang dengan Karl Marx yang ditafsir sebagai Marx Muda dan Marx Tua atau Al-Ghazali fase Tahafut al Falasifah dan Al-Ghazali Ihya Ulumuddin, Fischer pun demikian, kita demikian, manusia demikian. Fischer pada bagian sentral film menjadi Fischer yang tak cukup "itu saja," tapi Fischer paranoid dengan tingkah rockstar yang mengalami psikosis delusional atas Soviet. Dalam salah satu suratnya kepada Regina Fischer (diperankan Robin Weigert), Bobby Fischer menyatakan "Komunis menginfeksi pikiranku dengan kata-kata yang terus mengulang." Sementara disudut lain, pengacara ajaib Fischer yang patriotik, Paul Marshall (Michael Stuhlbarg) berkata "Da Vinci dari Brooklyn melawan seluruh kekaisaran Soviet." logika patah Marshall seolah-olah berkata bahwa Robert James "Bobby" Fischer sendirian melawan Spassky sang Mesias, Sekjen Partai Komunis Brezhnev dan Badan Intelejen KGB. Tentu saja tidak demikian.

Kita tahu, 1972 adalah sebuah rentang periode ketegangan politik antara E Pluribus Unum Amerika dengan Palu Arit Soviet setelah kejatuhan Panji Swastika Jerman, era perang dingin; tanpa aksi militer langsung, ajang spionase dan propaganda yang akrab dengan nuklir, penyebab konflik regional krisis rudal Kuba dan penembak-jatuhan Korean Air Lines 007. Tahun 1972 adalah parade kompetisi olahraga sportif-tak sportif yang pengacara Fischer sebut sebagai "pembuktikan keunggulan intelektual."

Dihilir, Soviet roboh dihantam –dari dalam- liberalisasi prestroika/glasnost Gorbachev atau dalam bahasa salah satu dosen yang tidak membuat saya angkat topi; pembukaan keran-keran demokrasi. Spassky juga roboh dihantam keseksian Fischer pada babak ke-6.

Bagi Zwick, Pawn Sacrifice (2014) adalah antitesis telak kata-kata latin Gens Una Sumus (Kita adalah Saudara), film catur yang mengantitesis motto catur. Bagi saya, Pawn Sacrifice (2014) adalah karnaval kemenangan pena atas senjata.

Sabtu, 12 Desember 2015

Mommy (2014)

Resensi ini ditulis tepat setelah running text TVRI memberitakan satu pengendara Go-Jek ditusuk tukang parker di Kawasan Sunter Mall Jakarta atau persis setelah tadi siang Indonesia menyelesaikan hajat demokrasinya melalui Pilkada serentak.

Dengan alat peraga seadanya, tanpa perangkat lunak pengolah kata terbitan 1983 (Office Word) dan koneksi internet stabil. Mommy (2014) coba ditulis. Dirilis pada pertengahan September 2014, film garapan sutradara muda Kanada kelahiran 1989; Xavier Dolan-Tadros ini menuturkan kisah bagaimana ketangguhan seorang Ibu yang ditinggal mati suami (Diane Despres) membesarkan anak laki-laki (Steve Despres) pengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan perkembangan aktivitas motorik yang menyebabkan anak-anak berbuat tidak lazim, meletup-letup dan berlebihan.

Sebuah plot cerita sederhana sebenarnya yang bahkan membuat Wikipedia memberikan porsi lebih besar untuk bagian nominasi dan penghargaannya ketimbang bagian plot cerita itu sendiri. Prix du Jury Cannes 2014, Best Foreign Film Cesar Awards ke-40, Best Film Jutra Award ke-17 dan banyak penghargaan lain yang tidak saya tulis.

Sederet penghargaan yang mungkin tidak diketahui oleh Juru Parkir Sunter Mall itu justru anehnya secara ajaib membawa saya pada pengetahuan bahwa penyebab telak Pilkada serentak tahun ini tidak seganas Pilkada sebelumnya adalah dampak dari pemberlakuan Undang-Undang 8 Tahun 2015 dimana pada Pasal 65 ayat (2) UU Pilkada ini disebutkan bahwa "kampanye difasilitasi oleh KPU dan didanai oleh APBD," berbeda radikal dengan kampanye sebelumnya dimana dana kampanye didanai oleh pasangan calon. Meski sama sekali tak berpangaruh pada saya atau Xavier Dolan, namun pengalihan sumber dana kampanye ini membuat adanya batas modal yang menyebabkan tidak terpublikasinya pasangan calon atau tidak lagi -meminjam bahasa Goenawan Mohamad-  seperti monyet dalam iklan kartu XL.

Iklan memang selamanya menarik, setengah kebodohan dan penyebab hilangnya kefokusan pada Mommy (2014), tapi saya tak gentar, iklan yang membuat kita membeli barang yang tak kita butuhkan itu bisa saja bukan penyebab tunggal pengemudi Go-Jek mengalami luka tusuk dan sayat di paha sebelah kiri, tetapi iklan jelas bertanggung jawab pada perilaku Diane yang mengejek dirinya sendiri dengan mengucap "pakaianku seperti sarapan anjing."

Diane "Die" Despres (diperankan Anne Dorval), wanita dengan takdir sejuta masalah itu meski menggunakan lidahnya secara serampangan dan mengindahkan salah satu anjuran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Diane menjalani hidupnya sebagaimana seharusnya hidup.


Menjelang bagian akhir Mommy (2014), Diane berkata pada Kyla (diperankan Suzanne Clement), "… Kau tahu Kyla, aku mengirimnya kesana karena aku punya harapan. Aku penuh dengan harapan, paham? Dunia ini memang tidak memiliki ribuan harapan. Tapi aku ingin menganggap bahwa dunia ini penuh dengan orang yang penuh harapan setiap harinya. Sebaiknya begitu, karena orang yang penuh harapanlah yang bisa merubah sesuatu. Dunia yang penuh harapan dengan orang-orang tanpa harapan itu tidak ada gunanya. Aku melakukan apa yang harus aku lakukan, dengan cara itulah harapan akan tumbuh. Sehingga aku bisa menang sepanjang jalan. Jadi kue atau makanan kering?"

Minggu, 06 Desember 2015

Sophie Scholl (2005)

"Kos di apartemen dua kamar di Munich, Jl. St. Franz-Joseph No. 13 milik Schmidt tanya Mohr pada Sophie."

Saya pikir dititik inilah ujaran kenabian yang hendak disabdakan Sutradara Marc Rothemund dan Penulis Fred Breinersdorfer dalam film yang dinominasikan sebagai film berbahasa asing terbaik Oscar tahun 2005; Sophie Scholl – Die letzten Tage.

Robert Mohr (1897-1977), laki-laki rapi yang berprofesi sebagai interrogator Gestapo mengepalai komisi penyelidikan dan penangkapan “operasi intelektual” White Roses (Juni 1942 – Februari 1943) di Jerman. Mohr yang sebelumnya magang sebagai tukang jahit menginterogasi Sophie Scholl disebuah sesi lebih dari sehari untuk sampai pada sebuah kesimpulan atau lebih tepatnya dakwaan bahwa “apa yang kau (Sophie) dan kakakmu (Hans) lakukan dimasa peperangan adalah aksi menentang masyarakat.”

Seperti hal nya hidup dan kehidupan, “ke-seksi-an-nya” bukan terletak pada sebuah hasil melainkan pada proses-proses-nya. Seperti itu pula Sophie Scholl (2005), kita dengan mudah tentu saja dapat menebak Sophie dan Hans serta belakangan Christoph Hermann Probst akan didakwa bersalah, namun bagaimana luapan dingin argumen-argumen Sophie untuk menyatakan bahwa ia benar adalah sebuah keseksian.

Simak diantaranya percakapan berikut ini:
  • Mohr : "Kau mendambakan kemakmuran rakyat Jerman kan, Nona Scholl?"
  • Sophie : "Ya"
  • Mohr : "Kau tak merencanakan pemboman seperti Elser brengsek di pabrik bir Munich 1939? Kau memilih slogan yang keliru, tapi menggunakan cara-cara damai."
  • Sophie : "Lantas kenapa kau menghukum kami?"
  • Mohr : "Karena hukum, tanpa hukum maka tak ada Pemerintahan"
  • Sophie : "Hukum yang kau maksud yang membela hak orang bersuara… sebelum Hitler berkuasa tahun 1933. Sekarang, dibawah rezimnya, orang bersuara dipenjara dan dihabisi. Pemerintahan yang begitu?"
  • Mohr : "Jika kita tak mentaati hukum, apalagi yang harus dijadikan pijakan?"
  • Sophie : "Nuranimu"
  • Mohr : "Sungguh? Ini hukum dan ini kehidupan sosial. Sudah tugasku sebagai polisi untuk memeriksa perilaku masyarakat apa sesuai tidaknya dengan hukum… menyelesaikan masalah yang ada."
  • Sophie : "Hukum berubah-ubah, Nurani tidak."

Ini percakapan brilian yang tidak menghentikan saya pada kesimpulan lazim “Hukum berubah dan Nurani tidak,” tapi justru membawa pada pertanyaan-pertanyaan garang lanjutan semisal apa yang melatarbelakangi terbentuknya hukum, apa yang menyebabkan Negara ada, nurani bagaimanakah yang dimaksud Sophie, penyebab sudut pandang Mohr dan sebagainya. Beribu pengetahuan serta ingatan menarik berkumandang, kontrak sosial Jean Jacques Rousseau, Geneologi Moral Friedrich Nietzsche, film drama Kanada arahan Xavier Dolan sampai kepada hukum Al-Quran menurut menantu Gus Mus; Ulil Abshar-Abdalla.

Disinilah keseksian yang membuat manusia beradab dengan simpul tidak tahu apa-apa, disinilah tempat membunyai tiga tingkatan ilmu oleh Umar "Al Faruq" bin Khattab, disinilah loka penghayatan kata-kata Buaya Hamka, disinilah Sophie Magdalena Scholl akhirnya tewas diujung pisau besar Guillotine.