Kamis, 31 Desember 2015

Pawn Sacrifice (2014)

Disamping menemukan Tuhan, tidak ada lagi yang lebih menggembirakan selain mendapati film menyejarah, kira-kira begitulah awalan untuk membuka film besutan Edward Zwick, Pawn Sacrifice (2014).

Dalam Pawn Sacrifice (2014), segala-galanya menarik, ganas dan ode tak berlebihan lain, singkatnya Zwick menjelaskan film ini diberi judul "Pawn Sacrifice" sebab dibelakang Bobby Fischer ada Henry Kissinger juga Richard Nixon, dibelakang Boris Spassky ada Leonid Brezhnev serta KGB (bukan Kelenjar Getah Bening tentu saja tapi Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti).

Kita tahu Pawn Sacrifice (2014) sepintas sederhana mengisahkan duel Fischer (diperankan Tobey Maguire) dengan Spassky (Live Schreiber) di papan catur Islandia tahun 1972. Namun kita juga tahu, bila mentaklid Zwick maka Pawn Sacrifice (2014) menjadi arena ide-ide yang tak lagi sederhana.

Edward Zwick menolak gamblang lagi tak serampangan kata-kata Fischer muda: "Pendapatku soal permainan, dua orang diatas papan catur, satu membuat langkah, yang lainnya juga melangkah, itu saja." Saya gunakan "Fischer muda" bukan tanpa disengaja, setali tiga uang dengan Karl Marx yang ditafsir sebagai Marx Muda dan Marx Tua atau Al-Ghazali fase Tahafut al Falasifah dan Al-Ghazali Ihya Ulumuddin, Fischer pun demikian, kita demikian, manusia demikian. Fischer pada bagian sentral film menjadi Fischer yang tak cukup "itu saja," tapi Fischer paranoid dengan tingkah rockstar yang mengalami psikosis delusional atas Soviet. Dalam salah satu suratnya kepada Regina Fischer (diperankan Robin Weigert), Bobby Fischer menyatakan "Komunis menginfeksi pikiranku dengan kata-kata yang terus mengulang." Sementara disudut lain, pengacara ajaib Fischer yang patriotik, Paul Marshall (Michael Stuhlbarg) berkata "Da Vinci dari Brooklyn melawan seluruh kekaisaran Soviet." logika patah Marshall seolah-olah berkata bahwa Robert James "Bobby" Fischer sendirian melawan Spassky sang Mesias, Sekjen Partai Komunis Brezhnev dan Badan Intelejen KGB. Tentu saja tidak demikian.

Kita tahu, 1972 adalah sebuah rentang periode ketegangan politik antara E Pluribus Unum Amerika dengan Palu Arit Soviet setelah kejatuhan Panji Swastika Jerman, era perang dingin; tanpa aksi militer langsung, ajang spionase dan propaganda yang akrab dengan nuklir, penyebab konflik regional krisis rudal Kuba dan penembak-jatuhan Korean Air Lines 007. Tahun 1972 adalah parade kompetisi olahraga sportif-tak sportif yang pengacara Fischer sebut sebagai "pembuktikan keunggulan intelektual."

Dihilir, Soviet roboh dihantam –dari dalam- liberalisasi prestroika/glasnost Gorbachev atau dalam bahasa salah satu dosen yang tidak membuat saya angkat topi; pembukaan keran-keran demokrasi. Spassky juga roboh dihantam keseksian Fischer pada babak ke-6.

Bagi Zwick, Pawn Sacrifice (2014) adalah antitesis telak kata-kata latin Gens Una Sumus (Kita adalah Saudara), film catur yang mengantitesis motto catur. Bagi saya, Pawn Sacrifice (2014) adalah karnaval kemenangan pena atas senjata.

Sabtu, 12 Desember 2015

Mommy (2014)

Resensi ini ditulis tepat setelah running text TVRI memberitakan satu pengendara Go-Jek ditusuk tukang parker di Kawasan Sunter Mall Jakarta atau persis setelah tadi siang Indonesia menyelesaikan hajat demokrasinya melalui Pilkada serentak.

Dengan alat peraga seadanya, tanpa perangkat lunak pengolah kata terbitan 1983 (Office Word) dan koneksi internet stabil. Mommy (2014) coba ditulis. Dirilis pada pertengahan September 2014, film garapan sutradara muda Kanada kelahiran 1989; Xavier Dolan-Tadros ini menuturkan kisah bagaimana ketangguhan seorang Ibu yang ditinggal mati suami (Diane Despres) membesarkan anak laki-laki (Steve Despres) pengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan perkembangan aktivitas motorik yang menyebabkan anak-anak berbuat tidak lazim, meletup-letup dan berlebihan.

Sebuah plot cerita sederhana sebenarnya yang bahkan membuat Wikipedia memberikan porsi lebih besar untuk bagian nominasi dan penghargaannya ketimbang bagian plot cerita itu sendiri. Prix du Jury Cannes 2014, Best Foreign Film Cesar Awards ke-40, Best Film Jutra Award ke-17 dan banyak penghargaan lain yang tidak saya tulis.

Sederet penghargaan yang mungkin tidak diketahui oleh Juru Parkir Sunter Mall itu justru anehnya secara ajaib membawa saya pada pengetahuan bahwa penyebab telak Pilkada serentak tahun ini tidak seganas Pilkada sebelumnya adalah dampak dari pemberlakuan Undang-Undang 8 Tahun 2015 dimana pada Pasal 65 ayat (2) UU Pilkada ini disebutkan bahwa "kampanye difasilitasi oleh KPU dan didanai oleh APBD," berbeda radikal dengan kampanye sebelumnya dimana dana kampanye didanai oleh pasangan calon. Meski sama sekali tak berpangaruh pada saya atau Xavier Dolan, namun pengalihan sumber dana kampanye ini membuat adanya batas modal yang menyebabkan tidak terpublikasinya pasangan calon atau tidak lagi -meminjam bahasa Goenawan Mohamad-  seperti monyet dalam iklan kartu XL.

Iklan memang selamanya menarik, setengah kebodohan dan penyebab hilangnya kefokusan pada Mommy (2014), tapi saya tak gentar, iklan yang membuat kita membeli barang yang tak kita butuhkan itu bisa saja bukan penyebab tunggal pengemudi Go-Jek mengalami luka tusuk dan sayat di paha sebelah kiri, tetapi iklan jelas bertanggung jawab pada perilaku Diane yang mengejek dirinya sendiri dengan mengucap "pakaianku seperti sarapan anjing."

Diane "Die" Despres (diperankan Anne Dorval), wanita dengan takdir sejuta masalah itu meski menggunakan lidahnya secara serampangan dan mengindahkan salah satu anjuran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Diane menjalani hidupnya sebagaimana seharusnya hidup.


Menjelang bagian akhir Mommy (2014), Diane berkata pada Kyla (diperankan Suzanne Clement), "… Kau tahu Kyla, aku mengirimnya kesana karena aku punya harapan. Aku penuh dengan harapan, paham? Dunia ini memang tidak memiliki ribuan harapan. Tapi aku ingin menganggap bahwa dunia ini penuh dengan orang yang penuh harapan setiap harinya. Sebaiknya begitu, karena orang yang penuh harapanlah yang bisa merubah sesuatu. Dunia yang penuh harapan dengan orang-orang tanpa harapan itu tidak ada gunanya. Aku melakukan apa yang harus aku lakukan, dengan cara itulah harapan akan tumbuh. Sehingga aku bisa menang sepanjang jalan. Jadi kue atau makanan kering?"

Minggu, 06 Desember 2015

Sophie Scholl (2005)

"Kos di apartemen dua kamar di Munich, Jl. St. Franz-Joseph No. 13 milik Schmidt tanya Mohr pada Sophie."

Saya pikir dititik inilah ujaran kenabian yang hendak disabdakan Sutradara Marc Rothemund dan Penulis Fred Breinersdorfer dalam film yang dinominasikan sebagai film berbahasa asing terbaik Oscar tahun 2005; Sophie Scholl – Die letzten Tage.

Robert Mohr (1897-1977), laki-laki rapi yang berprofesi sebagai interrogator Gestapo mengepalai komisi penyelidikan dan penangkapan “operasi intelektual” White Roses (Juni 1942 – Februari 1943) di Jerman. Mohr yang sebelumnya magang sebagai tukang jahit menginterogasi Sophie Scholl disebuah sesi lebih dari sehari untuk sampai pada sebuah kesimpulan atau lebih tepatnya dakwaan bahwa “apa yang kau (Sophie) dan kakakmu (Hans) lakukan dimasa peperangan adalah aksi menentang masyarakat.”

Seperti hal nya hidup dan kehidupan, “ke-seksi-an-nya” bukan terletak pada sebuah hasil melainkan pada proses-proses-nya. Seperti itu pula Sophie Scholl (2005), kita dengan mudah tentu saja dapat menebak Sophie dan Hans serta belakangan Christoph Hermann Probst akan didakwa bersalah, namun bagaimana luapan dingin argumen-argumen Sophie untuk menyatakan bahwa ia benar adalah sebuah keseksian.

Simak diantaranya percakapan berikut ini:
  • Mohr : "Kau mendambakan kemakmuran rakyat Jerman kan, Nona Scholl?"
  • Sophie : "Ya"
  • Mohr : "Kau tak merencanakan pemboman seperti Elser brengsek di pabrik bir Munich 1939? Kau memilih slogan yang keliru, tapi menggunakan cara-cara damai."
  • Sophie : "Lantas kenapa kau menghukum kami?"
  • Mohr : "Karena hukum, tanpa hukum maka tak ada Pemerintahan"
  • Sophie : "Hukum yang kau maksud yang membela hak orang bersuara… sebelum Hitler berkuasa tahun 1933. Sekarang, dibawah rezimnya, orang bersuara dipenjara dan dihabisi. Pemerintahan yang begitu?"
  • Mohr : "Jika kita tak mentaati hukum, apalagi yang harus dijadikan pijakan?"
  • Sophie : "Nuranimu"
  • Mohr : "Sungguh? Ini hukum dan ini kehidupan sosial. Sudah tugasku sebagai polisi untuk memeriksa perilaku masyarakat apa sesuai tidaknya dengan hukum… menyelesaikan masalah yang ada."
  • Sophie : "Hukum berubah-ubah, Nurani tidak."

Ini percakapan brilian yang tidak menghentikan saya pada kesimpulan lazim “Hukum berubah dan Nurani tidak,” tapi justru membawa pada pertanyaan-pertanyaan garang lanjutan semisal apa yang melatarbelakangi terbentuknya hukum, apa yang menyebabkan Negara ada, nurani bagaimanakah yang dimaksud Sophie, penyebab sudut pandang Mohr dan sebagainya. Beribu pengetahuan serta ingatan menarik berkumandang, kontrak sosial Jean Jacques Rousseau, Geneologi Moral Friedrich Nietzsche, film drama Kanada arahan Xavier Dolan sampai kepada hukum Al-Quran menurut menantu Gus Mus; Ulil Abshar-Abdalla.

Disinilah keseksian yang membuat manusia beradab dengan simpul tidak tahu apa-apa, disinilah tempat membunyai tiga tingkatan ilmu oleh Umar "Al Faruq" bin Khattab, disinilah loka penghayatan kata-kata Buaya Hamka, disinilah Sophie Magdalena Scholl akhirnya tewas diujung pisau besar Guillotine.

Selasa, 14 Juli 2015

Sherlock (2010, 2012 & 2014)

Ayah yang pemabuk dan Ibu Katolik Irlandia melahirkan anak yang menghabiskan sisa hidupnya menjadi Agnostik. Saya tidak mengatakan bahwa Arthur Ignatius Conan Doyle mengatur jam alarm hari ini dan tidak punya keyakinan untuk terbangun keesokan harinya, yang saya coba katakan adalah bahwa Doyle di tahun 1886 mencipta karakter Sherlock Holmes berdasarkan tokoh Dr. Joseph Bell –ahli dalam cara berpikir deduktif untuk mendiagnosa penyakit- yang merupakan salah satu dosennya di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Edindburgh yang dijuluki Athena di Utara dengan alumnus seperti Charles Darwin, David Hume, serta Alex Graham Bell. Namun bukan itu yang akan kita bincangkan.

Tak seperti Robert Downey Jr yang diizinkan ayahnya mengkonsumsi ganja sejak usia 6 tahun, Benedict Cumberbatch memerankan Sherlok Holmes dengan tingkat sarkasme yang lebih rendah. Disini, bukan berarti saya sama tua-nya dengan Cephalus, ayah Polemarchus (lihat buku ke-1 The Republik karya Plato), namun saya satuju dengan Cephalus ketika mengatakan kepada Socrates “semakin banyak kesenangan badaniah berangsur-angsur hilang, semakin besar kesenangan dan pesona percakapan bagi saya,” Meski begitu, British Broadcasting Corparation (BBC) sebagai pengampu Sherlock cukup prima dengan menukilkan blog Pribadi Dr. John Watson dan tentu saja blog Sherlock sendiri berjudul The Science of Deduction. Namun bukan itu yang akan kita bincangkan.

Rambut klimis Jim Moriaty, inner beauty Irene Adler, atau dengan segala hormat absurditas Mrs. Hudson adalah hal-hal yang bisa dengan mudah diamati, yang tidak mudah saya pahami adalah bagaimana bisa Sherlock dengan kaca pembesar tapi tanpa pipa rokok, di 221b Baker Street, London terletak The Sherlock Holmes Museum (buka setiap hari dari pukul 09.30 s.d 18.00), dengan cukup membayar tiket masuk seharga 80.000 RibuRupiah maka anda akan ditawarkan fasilitas foto mengenakan topi kebesaran serta pipa rokok Holmes, sekali lagi… pipa rokok Holmes. Entah apa yang ada dipikiran Stevan Moffat maupun Mark Gatiss selaku penulis Sherlock yang saya yakin pasti berkunjung ke museum. Namun bukan itu yang akan kita bincangkan.

Di Amsterdam, 30 Juli 2014, Goenawan Mohamad menulis sebuah Esei berjudul Fragmen: Peristiwa yang menggunakan kata “Tapi” sebanyak 41 kali, pada “Tapi” ke-10 lah tulisan ini menemukan –anggap saja- gaungnya. “Tapi” yang menuntun kepada Ludwig Josef Johaan Wittgenstein yang menulis surat menjelang musim dingin 1919, yang isinya dengan tidak bangga saya gubah menjadi: "tulisan ini terdiri dari dua bagian: yang satu yang tertulis disini dan yang satu yang belum kutulis dan justru pada bagian kedua itulah yang penting."


Jadi, juga hasil gubahan yang kali ini dari Samuel Beckett, si pemenang nobel sastra tahun 1969, tulisan ini agaknya lebih pas jika saya beri judul “Sementara Menunggu Sherlock” atau malah “Sementara Menunggu Resensi Sherlock.” 

Senin, 06 Juli 2015

Livorno dan Hantu-Hantu Komunisme

and if I die as a partisano bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciaoand if I die as a partisanyou have to bury me...
but bury me up in the mountaino bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao...

Lirik lagu “Bella Ciao” yang tidak diketahui dengan persis penulis nya ini, lazim digunakan kaum kiri sebagai himne kebebasan nir perlawanan atas kaum kapital, borjuis, dan fasis. Lagu ini pula yang menjadi lagu resmi sebuah klub sepakbola yang bermaskas di Stadion Armando Picchi. Bersama dengan banner Che Guevara dan bendera-bendera komunisme, Bella Ciao bergemuruh membuka laga-laga kandang Associazione Sportiva Livorno Calcio.

A. S. Livorno Calcio (selanjutnya cukup disebut Livorno atau Livorno Calcio), yang didirikan tahun 1915 silam memang tim sepakbola menyejarah dengan prestasi terbaik peringkat kedua Seri A Italia musim 1942/43, di Kota ini tercatat tanggal 21 Januari 1921, dipelopori teoritis politik Antonio Gramsci dan kawan Amadeo Bordigo, dideklarasikan Partito Comunisto Italiano (PCI) yang kemudian -setelah dilakukan pemenjaraan atas Gramsci oleh Il Duce Fasis Benito Mussolini-, tongkat kepemimpinan PCI diestafetkan kepada Il Migliore Palmiro Togliatti. Peristiwa bersejarah ini tak pelak membuat Livorno sangat memusuhi SS. Lazio yang berkultur kanan kesayangan Mussolini.

Tradisi ruang menyejarah memang mengental di Italia, masyarakat sana menyebut "Campanilismo," yang saya terjemahkan bebas sebagai kecintaan kewilayahan yang lantas diidentifikasi menjadi ruang itu adalah kita. Oleh sebab itu, ruang kota Livorno sebagai tempat pembaptisan komunisme dapat dibaca sebagai masyarakat Livorno adalah masyarakat bapa Marxisme.

Livorno keep the red flag flying high (25/01/2005) ujar tajuk berita surat kabar kiri Inggris The Guardian. Sementara ujar sosiolog Marxis Italia, Antonio Toni Negri (06/2006), if you want to have fun, go see them. They are very original…nostalgic, from the extreme left. Dan selayaknya kitab suci yang mempunyai nabi, Livorno Calcio mempunyai Brigate Autonome Livornose (BAL), sekumpulan tifosi ultras kiri Livorno yang dalam laga kandang acap kali menduduki tribun utara (Curva Nord) dibelakang gawang.

Terbentuk pada tahun 1999, BAL merupakan penggabungan kuartet kiri tifosi Livorno seperti Magenta, Fedayn, Sbandati, dan Gruppo Autonomo yang mulanya berdiri sendiri-sendiri. BAL inilah si tukang pengolah simbol spektakuler, membentangkan bendera bintang merah atau palu arit, membuat t-shirt sebagai dedikasi hari kelahiran Joseph Stalin, berpakaian militer layaknya Fidel Castro, menyanyikan bella ciao, mengibarkan bendera Palestina saat bertemu tim Israel; Maccabi Haifa dan masih banyak lagi peristiwa seksi yang dengan gamblang diterjemahkan utuh penulis Indonesia di kolom-kolom olahraga media online.

BAL juga yang memaki Silvio Berlusconi sebagai pedofil, menolak komersialisasi sepakbola, dan me-maskotkan Cristiano Lucarelli. Kenapa Lucarelli? Mudah saja, karena selebrasi Lucarelli dalam mencetak gol adalah membuka jersey tim dan memperlihatkan kaos bergambar Che Guevara, Lucarelli juga yang bersama Livorno menjadi top skor Seri-A musim 2004/05 dan melakukan charity match ke Cuba, disamping itu, Mark Doidge, peniliti senior politik dan kultur sepakbola dari Universitas of Brighton Inggris melalui hasil risetnya The Birthplace of Italian Communism; Political Identity and Action Amongst Livorno Fans (dipublikasi online pada 19 Maret 2013) menyatakan, Cristiano Lucarelli symbolizes the “typical Livornese”. Gregorious, amicable and openly political, Lucarelli reflects the young masculine fans on the terrace. 

Begitulah, Livorno adalah keseksian yang tak digemari tifosi prematur.

Kamis, 02 Juli 2015

Hunger (2008)

Mungkin saya agak terbalik dalam menikmati karya Steve McQueen, didahului dengan 12 Years a Slave (2013) lantas baru menamatkan Hunger (2008). Namun, tak jadi soal pula karena memang kedua film itu sama sekali tidak berkaitan.

Hunger sendiri dilatarbelakangi kisah nyata Irlandia Utara, dimana selama periode konflik etnis yang dimulai sejak 1969, “The Troubles” atau “Na Triobloidi” dalam bahasa aslinya telah memakan korban sebanyak 2.187 jiwa untuk pihak loyalis-unionis maupun pihak nasionalis-republikan. Meski demikian Hunger tidak dimulai dari situ, Hunger dimulai dari sebuah Penjara di wilayah County Down, Irlandia Utara bernama Maze.

Maze yang resmi dioperasikan sejak 9 Agustus 1971, menjadi saksi idealisme Robert  Gerard “Bobby” Sands dan rekan-rekan muda republik lainnya melakukan aksi protes menolak mandi lagi membersihkan diri (Dirty Protest) serta menolak berpakaian (Blanket Protest). Dirty dan blanket protest yang telah berlangsung bertahun-tahun di Maze digunakan Bobby sebagai amunisi untuk Margaret Hilda Tahtcher agar memberikan status politik yang artinya perlakuan berbeda antara pelaku kejahatan dengan pelaku kejahatan politik.

Margaret bergeming… “Tak ada namanya pembunuhan bermotif politik, pemboman bermotif politik, maupun kekerasan bermotif politik. Yang ada cuma kejahatan pembunuhan, kejahatan pemboman, kejahatan kekerasan. Kita tidak akan berkompromi.”

Begitulah Margaret, Prime Minister of The United Kingdom alumnus Oxford di bidang ilmu kimia yang oleh jurnalis soviet dijuluki sebagai wanita besi. Tapi Bobby tak menyerah, ia punya ide lain yang tampil seksi ketika didiskusikan dengan Pendeta yang akrab dipanggil Dom.

Dom dengan segala kemenarikan kata-katanya menolak mentah-mentah ide Bobby untuk menjadi pionir aksi mogok makan dengan menyatakan “… masa depan gerakan Irlandia ada ditangan orang yang telah kehilangan realitas.” Oleh Bobby lantas dijawab “… aku tahu kau tak bermaksud mencibirku Dom, jadi aku memaafkanmu…. kau pernah ke Gweedore di Donegal? Aku kesana saat usiaku 12 tahun, lomba lari lintas alam untuk anak-anak. Maksudku, ini adalah sebuah peristiwa penting, ini seperti sebuah kompetesi internasional bagi kami. Sebab kami berpacu melawan anak-anak selatan, dan kami melakukannya demi membuat Belfast bangga. Singkatnya, kami tiba di Gweedore. Tempat yang luas, ada sekitar 200 anak, dan mereka sedang melakukan pemanasan. Tim kami kemudian berlari-lari kecil guna meregangkan otot kaki. Mengelilingi ladang gandum lalu meluncur turun ke lembah dimana ada sungai dan hutan…. dan kami bertemu anak-anak dari Cork. Mereka mengejek aksen kami, bicara mereka seperti bergumam, jadi kami tak paham maksud mereka…. kami menghampiri tepi sungai untuk melihat apa ada ikan. Kami turun kesungai Dom, dan arusnya sampai selutut. tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak, ada seeokor anak kuda mengambang dalam air, usianya 4 atau lima hari, tinggal tulang dan kulit, berwarna abu-abu dan ada noda darah…. dia bernafas, dia masih hidup. Percakapan riuh pun terjadi, tiba-tiba mereka merasa dirinya pemimpin dengan berunding harus berbuat apa, ada yang bilang lempar saja kepalanya dengan batu. Tapi, yang kulihat diwajah mereka adalah ketakutan dan kebingungan. Semua soal keberanian, anak kuda terus menderita dan perdebatan yang tak jelas terus terjadi. Salah satu dari mereka menatap kami lalu beralih ke anak kuda itu dan menyuruh kami untuk tetap tinggal sampai anak kuda itu benar-benar mati. Mereka bermaksud mengkambinghitamkan kami. Anak-anak Belfast selalu dipersalahkan, hal itu sangat jelas bagiku. Aku lalu berlutut dan kutekan kepala anak kuda itu kedalam air. Dia mulai menggelepar jadi kutekan semakin dalam hingga kepalanya terbenam. Pastor pun tiba Dom, Dia menjambak rambutku, menyeretku ke hutan dan mengurungku. Tapi aku tahu yang aku lakukan tadi benar. Supaya aku saja yang dihukum dan mereka menjadi hormat padaku. Aku paham apa yang kulakukan Dom, aku mengerti konsekuensinya. Aku akan bertindak, aku takkan duduk dan diam… tinggalkan rokok itu untukku.”

Margaret tetap bergeming… “dihadapkan pada kegagalan tuntutan mereka, dalam beberapa bulan terakhir mereka memilih untuk memainkan kartu terakhir, mereka melakukan kekerasan pada diri mereka sendiri, melalui aksi mogok makan sampai mati. Mereka mencari simpati paling dasar manusia yaitu belas kasihan untuk menciptakan ketegangan dan menyalakan api kebencian.”

Setelah 66 hari mogok makan, Bobby Sands meninggal. Bobby dengan keyakinan karang sangat menggoda saya untuk setidaknya memahatkan namanya pada sebuah kostum sepakbola Irlandia Utara bernomor punggung 10.

Minggu, 21 Juni 2015

The Counterfeiters (2007)

Film yang diangkat dari memoar Yahudi Slovakia, Adolf Burger ini umumnya mengisahkan tentang rencana Nazi –dengan nama Operasi Bernhard- untuk mengacaukan perekonomian Inggris dengan jalan penyelundupan poundsterling palsu dalam skala besar-besaran. Namun bagi saya The Counterfeiters (2007) adalah film dengan maklumat bahwa seniman akan lebih mampu bertahan hidup dibanding bukan-seniman dan dibalik kepengecutannya ternyata Heinrich Himmler juga bisa melakukan sesuatu yang berguna.

The Counterfeiters atau dalam bahasa aslinya Die Falscher (2007) dibuka dengan seorang pria tanpa kumis yang membawa satu koper penuh terisi uang, check in disebuah hotel diperkampungan Monako, berjudi di Kasino, meminum anggur, bercinta, dan saya hampir lupa; sapaan petugas hotel yang diabaikan: "Apa ini kunjungan pertama anda ke Monte Carlo?"

Pria tanpa kumis yang dulu berkumis itu, Solomon Smolianoff alias Soloman "Sally" Sorowitsch, Yahudi kelahiran Ukraina yang pada 1922 kabur dari Rusia dikarenakan ketidaktepatan posisi orang tua dalam Revolusi Rusia. Sorowitsch lantas menikah di Italia, memutuskan untuk hidup di Jerman dan bekerja sebagai seorang pemalsu sampai tertangkap oleh Friedrich Herzog, seorang aparat kriminal Berlin dari Departemen Pemalsuan.

Pasca penangkapan, Sorowitsch kemudian dikirim ke Kamp Konsentrasi Mauthausen di Linz, Austria dan lebih-kurang lima tahun kemudian berkat kompetensinya, bersama-sama dengan Adolf Burger, Kolya serta dua orang lainnya, Sorowitsch lantas dipindahkan ke Kamp Konsentrasi Sachsenhausen di Oranienburg, Jerman. Di "Saxon’s Houses" ini, Sorowitsch bertemu kembali dengan Friedrich Herzog yang sudah dipromosikan menjadi sturmbannfuhrer schutzstaffel Nazi dibawah garis komando Heinrich Luitpold Himmler.

Tidak seperti tahanan-tahanan yahudi, komunis, atau homoseksual lainnya di Saxon’s Houses, oleh sturmbannfuhrer Herzog, Sorowitsch, Burger, Kolya dan beberapa orang seniman –atau mengaku seniman- lainnya dipekerjakan pada Operasi Bernhard, disuguhi rokok serta diberikan kasur empuk, poundsterling palsu yang berhasil dibuat dihargai dengan satu papan tenis meja lengkap dengan bola dan bet plus kesempatan satu minggu sekali untuk mandi.

Sebuah kegemilangan bagi Sorowitsch, namun kemurungan bagi Burger. Berbeda dengan Sorowitsch yang “realistis,” Adolf Burger adalah seorang “idealis,” martil, berdedikasi atas komunisme, dan menangis saat bisa kembali melihat mesin cetak.

Ada satu kejadian menarik yang mencikal pertemanan Sorowitsch dan Burger; ketika itu Burger mendengar desas-desus bahwa dalam perjalanan menuju Saxon’s Houses, Sorowitsch memberikan jatah makannya kepada Kolya, dan Burger berujar "… kau beri kawanmu sepotong rotimu, … itu solidaritas" -didahului dengan kata-kata kriminal sejati adalah para kapitalis penghisap tentu saja,- dan Sorowitsch menjawab "itu sup."

Kejadian ini memang tidak menjadikan Burger lantas sebagai Soekarno dan Sorowitsch sebagai Hatta, namun dua motor ini menjadi penggerak inti Operasi Bernhard untuk kemudian menjadi berselisih ketika sturmbannfuhrer Herzog menugasi mereka membuat dolar palsu.

Tidak banyak yang tahu memang sudut lain dari Perang Dunia II (1939-1945), yang bisa berakhir lebih cepat dikarenakan keberhasilan Alan Turing memecahkan sandi Enigma dan atau keputusan –yang diinisiasi Adolf Burger- dilematis Soloman Sorowitsch untuk menunda-nunda mencetak dolar palsu.