Sabtu, 07 April 2012

Kisah Sebuah Kipas Angin

Pukul 02.05 dini hari. Lampu-lampu diberanda depan dan dua kamar selain kamarku telah dipadamkan. Tanpa sadar sedari tadi rupa-rupanya dikamar kacauku, kipas anginku yang tak bisa lagi dikatakan barang luks yang tubuhnya penuh dengan sisa noda lengket dari mainan tempel anak-anak yang mereka biasa sebut dengan power rangers, yang kaki kurusnya sudah teramputasi hingga memerlukan rak buku sebagai penyangga, tak henti-hentinya berputar. Yahh, tak berhenti berputar sepanjang pasokan listrik PLN kita mengalir.
Usianya memang jauh lebih muda dariku, bahkan dari adikku yang masih bersekolah di sekolah dasar. “ahh, ingat adikku aku juga jadi ingat sesuatu,” akan kuceritakan sedikit. Sesuatu ini berawal disebuah sore, ketika kulihat adikku bersama teman-teman 6 tahunnya bertepuk tangan sambil meneriaki “banci...banci...banci” kepada seorang pria, ahh bukan wanita kupikir bila melihat dari caranya berjalan dan caranya berdandan, tapi setelah kulihat lebih jelas otot-otot pada betis kakinya, aku bersedia berpikir ulang. Akupun segera menghampiri mereka lalu menasehati kalau tindakan mereka itu salah karena menyakiti hati orang lain. “tapi ia kan memang banci kak” susul adikku sejurus kemudian dengan raut wajah samar-samar menantang disusul dengan raut wajah mengamini teman-temannya. “begini..begini” kataku sambil tersenyum, “sakitkah hati kalian kalau kalian diteriaki jelek berulangkali serta ditepuktangani walaupun kenyataanya kalian memang jelek” sambil kulirik adikku setengah bercanda. “kita semua sama, sederajat dan manusia hanya ada satu jenis. Jenis Manusia. Hormatilah! Jadi jangan mengejek, toh kita juga belum tentu lebih baik daripada ia” Dengan mudah mereka kujinakkan pikirku, dasar anak-anak. Tapi tak sempat lama kunikmati kemenanganku, muncul celotehan adikku berikutnya “kalau hanya ada satu jenis manusia, kenapa mereka tidak bisa hidup rukun kak? Kalau mereka semua sama kenapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci kak?” “mmm...” kuisap rokokku agar memudahkan kinerja otakku, “nanti kalian perlahan mengerti ketika tiba saat kalian tinggalkan masa kanak-kanak kalian,” jawabku sekenanya. “dan sekarang lebih baik kalian pulang, sudah hampir maghrib, sudah waktunya kalian mandi dan berhenti bermain bukan.” setelah hanya tinggal kudapati punggung-punggung mereka aku bergumam lirih “rasa-rasanya kadang memang masa kanak-kanak lah masa yang paling normal ketimbang masa-masa sesudahnya, tapi ntahlah” sambil kuisap rokok untuk yang kedua kalinya.
Kembali ke usia kipas anginku, aku lupa persisnya, tapi seingatku dia lahir dipertengahan tahun 2007-an. Tanggal ulang tahunnya? Jangan kau tanya kawan, mengingat tahunnya saja aku repot. Tapi tak papa lah, kita sepakat saja dia berulang tahun di 13 April. Ahh kenapa kau bertanya lagi kawan? Bukankah kau juga tau kalau kebenaran objektif adalah fake, yang ada kan kesepakatan dari subjektif-subjektif yang kemudian diobjektif-objektifkan, maka sepakatlah! Negara kita negara demokrasi, demokrasi tak mengenal hitam dan putih, demokrasi hanya mengenal banyak, dan mengutip Goenawan Muhammad bahwa demokrasi mengandung disilusi dalam dirinya. Jadi aku tak akan berbohong kalau aku bohong soal tanggal lahir kipas anginku, karena jujur aku lupa. Tapi aku tak akan berbohong soal ini, soal kenapa aku memilih april sebagai bulan lahir kipas anginku.
“Banyak cerita dari kata april” ujarku, salah satunya bulan yang identik dengan bulan kebohongan, “april-mop” teriak temanku dengan aksen suaranya yang menyebut huruf “R” malah terdengar seperti huruf “L” setelah berhasil mengelabuiku perihal kasus adam dan istrinya yang turun kedunia gara gara memakan buah. Kadang aku geli sendiri mengingat guyonan masa kecilku tentang Adam memakan satu yang kemudian menjadi Jakun pada pria dewasa, dan Hawa memakan dua yang kemudian menjadi payudara wanita yang bisa kita lihat tumbuh sejak di sekolah menengah pertama bahkan di akhir sekolah dasar! Zaman memang semakin cepat berubah kukira, seingat data kepala yang mulai mengabur tentang masa laluku, dulu teman-teman wanita awal sekolah menengah pertama ku dadanya masih tampak rata, akan tetapi anak perempuan sekarang di akhir sekolah dasar sudah menonjol meski terkesan ditonjol-tonjolkan. “mungkin anak perempuan sekarang mengamalkan ritual mengusap payudara mereka dengan air teh hangat di pagi hari” kataku.
Di April juga, sehari sebelum tanggal yang sama dengan hari lahir kipas anginku yang kukarang-karang, malam milenium ketujuh silam di gedung putih Washington, Elie Wiesel berpidato didepan mantan Presiden Clinton dan anggota kongres 1999. “ehh.. ternyata dia (baca: kipas angin) masih memperhatikanku” bicaraku dalam hati. dia terus bertiup yang membuatku cukup tak kepanasan. Menemani jari-jari yang sedang asik bercanda dengan tombol-tombol komputer. Jari-jari yang apabila dilipat kelingking, manis, serta jempolnya dengan meninggalkan tengah dan telunjuk tetap mengacung maka akan membentuk huruf “V” sebagai tanda victory atau peace. Isyarat Jari (finger’s sign) yang pernah digunakan Churchil, Nixon dan Perempuan Iraq yang sedang berada dalam kemenangan atau menginginkan suasana kedamaian. Jari-jari yang apabila hanya meninggalkan acungan telunjuk dan kelingking yang membentuk formasi seperti tanduk hingga disebut metal horns lantas menjadi isyarat penanda tak resmi “aku rocker”. Jari-jari yang hanya cukup dengan satu acungan tengah dapat membuat tulang hidung seorang Hooligans patah di Inggris sana.
Sebagian isi pidatonya kira-kira seperti ini “Akan lebih mudah jika kita memalingkan wajah dari para korban, agar kita bisa terus bekerja, bermimpi, berharap. Lagipula rasanya janggal untuk terlibat dalam penderitaan orang lain.” Pidato ini mengisahkan pengalaman pribadi Elie dalam menyoroti kaum tertindas dan tersisih diseluruh dunia.
Perihal “bahaya pengabaian” yang menjadi judul dari keseluruhan isi pidato Elie malam itu, kisah seorang seniman gagal yang dulu hidupnya menggelandang bisa kita jadikan rujukan. Seniman gagal yang kemudian kita kenal dengan nama Adolf Hitler, seniman gagal yang otaknya sukses diracun opium jenis superioritas arya dan alkohol memabukkan jenis benci yahudi berlebihan, dengan pasukan SS (scutzstaffel)-nya yang legendaris, seniman gagal ini membantai jutaan yahudi dalam kamp-kamp konsentrasi. “tak ada kokokan ayam, tak ada kicauan burung, tak ada gonggongan anjing. Semua sama, “Abai.” Memang tidak semua abai, dalam film-film seperti The Pianist atau Valkyrie, bisa kita lihat masih ada orang yang bernurani. Film Cekoslovakia And The Fifth Rider Is Fear yang jujur belum pernah kutonton tapi kuperoleh resensinya di sekali lagi Soe Hok-gie pun bercerita tentang hal yang sama. Diceritakan seorang dokter yahudi yang dilarang praktik oleh Nazi, setelah berjuang melawan dirinya sendiri, maka akhirnya ia memutusan untuk menolong seorang partisan yang luka walau tau akibat apa yang mengancam dirinya. Tapi, cukup banyakkah sifat seperti dokter yahudi itu? cukup banyakkah sifat seperti Kolonel Klaus von Stauffenberg? Jawab adikku  “tentu lebih sering keheningan malam yang muncul layaknya rutinitas terbit tenggelam matahari biasa.” Lantas Kita? Ntahlah.. yang pasti satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang. Satu lagi, “aku tak berbicara soal dia hitam dan dia putih disini. Maksudku selalu ada ruang untuk yang kelabu.”
Begitulah, pengabaian memang begitu menggoda, bahkan memikat, tapi normalkah kita ketika kita menikmati hidangan kalkun lezat dan segelas anggur, lingkungan disekitar kita mengalami pergolakan yang mengerikan? sudah begitu banyak kekerasan, begitu banyak kebohongan, begitu banyak kemiskinan, begitu banyak kelaparan, begitu banyak akar, sudah begitu banyak pengabaian.
Setengah berbisik aku berkata “kipas anginku..” kuamati dia kali ini lekat-lekat, fisikmu memang tak begitu menarik dan malah hampir cacat, umurmu pun belum genap 3 tahun malah. Tapi menyoal kegunaan, kuakui umur 22 tahun ku kalah telak. ketelanjangan kudapati disini, yang tak memakai jubah atas nama agama, yang tak memakai sarung atas nama budaya, dan yang tak memakai setelan jas atas nama hukum. Tak ada pamrih dalam pengorbananmu. Seperti lilin, membiarkan tubuhnya terbakar untuk kemudian kehilangan nyawa demi tujuan satu tujuan esa, menerangi pemiliknya.
“Udin !!!” teriak kantukku tiba-tiba. Ahhh.. datang juga kau sialan, darimana saja kau tanyaku?
--------
Pelaihari, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar